Ilustrasi Waktu Investasi
Sebagai investor pasar modal, tentunya kamu pernah merasakan ketika membeli suatu instrumen investasi, dalam hal ini adalah Saham, dan harganya tiba-tiba turun. Hal yang bisa saja kamu rasakan yaitu rasa kuatir harganya akan berlanjut turun, atau bisa juga panik dan langsung menjualnya disaat itu juga. Secara psikologi, emosi-emosi tersebut tentunya ada disetiap diri manusia, tetapi kamu perlu atasi dengan tetap pikiran jernih, tenang dan jangan gegabah dalam mengambil keputusan investasi.
Terkadang pun terlintas dipikiran, “Andai saya tahu, harusnya saya….” Hal tersebut merupakan kekecewaan atau penyesalan yang sering terjadi disetiap investor.
Timbullah pertanyaan, “Kapan waktu yang tepat untuk berinvestasi?”
Pertanyaan ini merupakan pertanyaan klasik yang hampir ditanyakan oleh setiap investor yang barusan terjun di dunia pasar modal. Jawaban yang 100% benar tentu tidak ada, karena tidak seorang pun tahu waktu yang tepat untuk berinvestasi dan apabila ada yang tahu pun maka sudah pasti dia akan kaya raya.
Namun kabar baiknya kamu bisa mengetahui beberapa hal yang bisa memandu kamu untuk menentukan kapan waktu yang tepat untuk berinvestasi, antara lain:
1. Memiliki Prinsip Investasi
Berkaca dari sang tokoh finasial ternama yaitu Warren Buffett, beliau merupakan sesosok investor yang memiliki prinsip investasi yang membuat dirinya menjadi kaya raya, bahkan sempat membuatnya dirinya bertengger di Top 5 orang terkaya di Bumi ini.
Salah satu prinsip investasi yang dia pegang yaitu “be fearful when others are greedy, and be greedy when others are fearful.” atau dalam terjemahan Indonesianya yaitu takutlah / waspadalah ketika orang-orang sedang serakah, dan jadilah serakah ketika orang-orang pada ketakutan.
Hal ini beliau terapkan tentunya tidak di sembarangan instrumen investasi lho, jadi kamu jangan ambil mentah-mentahnya langsung digunakan di saham-saham apapun, karena beliau sangat analitis dalam pemilihan instrumen investasi, terutama Saham.
2. Analisa Fundamental

Ilustrasi Laporan Keuangan Emiten
Kembali lagi dengan Warren Buffett, beliau merupakan salah satu tokoh investor sukses yang menggunakan analisa fundamental untuk menganalisa saham-saham dengan laporan keuangan yang baik dan tentunya saham-saham yang Manajemennya dipimpin oleh sosok yang jujur dan profesional.
Singkatnya analisa fundamental digunakan untuk mengetahui laporan keuangan perusahaan yang akan kamu beli sahamnya apakah masuk kategori murah / mahal. Katalis yang umumnya digunakan dalam analisa ini yaitu melihat harga buku perusahaan (price to book value / PBV), perbandingan harga terhadap pemasukan perusahaan (price to earning ratio / PER), tingkat utang perusahaan (debt to equity ratio / DER) dan tingkat keuntungan perusahaan (return on equity / ROE)
Suatu perusahaan yang dinilai harganya masih murah / undervalued biasa memiliki ciri :
- PBV dibawah 1
- PER dibawah 10
- DER dibawah 100%
- ROE konsisten diatas 10% per tahun dan diatas kompetitornya
Terkadang apabila ada berita negatif yang terjadi di dunia seperti pandemi terjadi atau misalkan ada perang antara negara besar, maka cenderung indeks global akan terpuruk walau sebenarnya belum tentu ada dampak signifikan di perusahaan-perusahaan di negara lainnya.
Namun dikacamata investor fundamentalis melihat hal itu sebagai kesempatan untuk mendapatkan saham perusahaan dengan harga yang murah, maka tidak heran ketika indeks pasar modal Indonesia terpuruk sesaat pengumuman perang antara negara besar Russia dan Ukraina pada tanggal 24 Februari 2022, aliran dana asing justru mengalir deras masuk ke pasar modal Indonesia, terutama di pasar saham dengan nilai pembelian bersih / net buy hampir mencapai 1 Trilliun Rupiah.
Jadi terlepas dari berita negatif, investor dengan analisa fundamental akan tetap pada prinsipnya untuk berinvestasi ke perusahaan-perusahaan yang memiliki nilai yang murah dan biasanya untuk jangka panjang seperti yang diakukan oleh Warren Buffett.
3. Analisa Teknikal
Play Store
IOS : App Store
Website : Makmur.id
Baca juga : Apa Sih Pengaruh Hubungan Positif/Negatif Antara Negara Maju dengan Kinerja Pasar Modal Indonesia?
