Saham yang Berpotensi Diuntungkan dari Anggaran MBG 2026

Key Takeaways:

  • Meski pagu anggaran MBG 2026 direvisi turun dari Rp335 triliun menjadi sekitar Rp229 triliun, nilainya tetap jauh lebih besar dibandingkan 2025 sehingga berpotensi mendorong permintaan pada sejumlah sektor.
  • Emiten sektor consumer non-cyclicals seperti ULTJ, JPFA, dan CPIN berada pada posisi strategis untuk memperoleh manfaat langsung program MBG.
  • Penyesuaian model bisnis seperti yang dilakukan PART, menunjukkan bahwa peluang dari program MBG juga terbuka bagi sektor non-pangan.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu fokus utama pemerintah dalam menjaga kualitas sumber daya manusia sejak usia dini. Seiring skalanya yang besar, komposisi anggaran program ini turut menjadi bahan diskusi publik, termasuk mengenai porsi belanja untuk komponen pendukung di luar bahan makanan.

Untuk memahami gambaran tersebut, berikut alokasi anggaran Badan Gizi Nasional (BGN) berdasarkan struktur belanja 2025 hingga Kuartal II 2026:

Diagram 1. Kategori Belanja BGN 2025 hingga Kuartal II 2026

Sumber: LKPP BGN 2025 via Project Multatuli

Data tersebut menunjukkan bahwa anggaran program tidak hanya dialokasikan untuk bahan makanan, tetapi juga untuk komponen pendukung operasional seperti kendaraan, distribusi, dan fasilitas penunjang.

Komposisi seperti ini umum ditemui pada program logistik berskala nasional. Dalam struktur biaya operasional program, BGN menyampaikan bahwa sekitar 70% dialokasikan untuk bahan baku makanan, 20% untuk operasional dan distribusi, serta 10% untuk kebutuhan lainnya.

Perlu diketahui, memasuki 2026 anggaran program ini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada 2025 anggaran MBG tercatat sebesar Rp71 triliun, pagu awal 2026 melonjak menjadi Rp335 triliun.

Pada Mei 2026 Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa anggaran tersebut disesuaikan turun ke kisaran Rp268 triliun sebagai bagian dari upaya efisiensi dan perbaikan tata kelola sesuai arahan Presiden.

Per Juli 2026, anggaran kembali direvisi menjadi sekitar Rp229 triliun seiring evaluasi lanjutan terhadap kebutuhan pendanaan dan penyempurnaan pelaksanaan program. Di saat yang sama, pemerintah juga memperbaiki akurasi penyaluran manfaat.

BGN menemukan adanya sekolah yang dilayani oleh dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sehingga distribusi perlu disesuaikan agar tidak terjadi tumpang tindih. Selain itu, BGN tengah melakukan penyisiran ulang terhadap data penerima manfaat setelah Presiden Prabowo memberikan waktu satu bulan untuk mempertajam tata kelola program.

Evaluasi tersebut mencakup sekitar 62,7 juta calon penerima manfaat guna memastikan bantuan lebih tepat sasaran. Sebagai gambaran, realisasi penyaluran hingga 30 Juni 2026 telah mencapai sekitar Rp98,8 triliun.

Terlepas dari penyesuaian tersebut, skala pelaksanaan MBG pada 2026 tetap jauh lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini berpotensi mendorong peningkatan permintaan pada berbagai rantai pasok, dari hulu hingga hilir. Dalam pasar modal, kondisi seperti ini kerap menjadi katalis positif bagi emiten yang memiliki keterkaitan langsung maupun tidak langsung dengan program tersebut.

Saham yang Diuntungkan oleh MBG

Kenaikan anggaran memberikan gambaran mengenai besarnya potensi pendapatan bagi emiten di sektor-sektor tertentu. Tingginya belanja pemerintah pada kategori tertentu biasanya berpotensi menjadi katalis positif bagi harga saham emiten penyedia produk yang relevan.

Berikut adalah pemetaan kategori belanja tersebut ke dalam saham yang relevan di Bursa Efek Indonesia (BEI) beserta analisis potensinya.

1. PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ)

Pemenuhan gizi dalam program MBG tidak hanya berfokus pada protein hewani dari ayam dan telur, tetapi juga mencakup susu sebagai sumber nutrisi penting. Dalam hal ini, PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) menjadi salah satu perusahaan yang menyatakan telah memperkuat produksi untuk mendukung program MBG.

Rencana ini diungkapkan melalui dokumen public expose ULTJ pada tanggal 19 Desember 2025, yang menyebutkan penguatan kapasitas produksi susu UHT untuk mendukung program penyediaan susu sekolah, yang secara bertahap mulai memberikan kontribusi terhadap penjualan emiten.

Tabel 1. Kontribusi Produk Susu Sekolah Terhadap Total Penjualan ULTJ semester II 2025

Sumber: Paparan Publik ULTJ, Desember 2025

Data tersebut menunjukkan tren peningkatan kontribusi yang cukup konsisten, terutama pada Kuartal IV 2025. Selanjutnya, kita dapat melihat bagaimana data pertumbuhan penjualan neto ULTJ per segmen pada tahun 2025.

Tabel 2. Pertumbuhan Penjualan Neto ULTJ per Segmen Tahun 2025 (YoY)

Sumber: Annual Report ULTJ 2025

Penurunan penjualan neto segmen minuman ULTJ yang berasal dari produk UHT (Ultra High Temperature) sebesar 0,44% diikuti dengan kenaikan laba usaha menunjukkan adanya upaya efisiensi dalam strategi operasional. Saat ini, emiten juga mulai memperkuat produksi susu UHT untuk mendukung program MBG melalui pesanan langsung dari BGN. Perubahan tersebut membuat pertumbuhan bisnis tidak lagi hanya bergantung pada volume penjualan di pasar ritel, tetapi juga didukung oleh permintaan berbasis kontrak yang lebih stabil dan terukur.

Sebaliknya, segmen makanan yang mencakup produk non-UHT mengalami tekanan lebih besar, dengan penjualan neto turun 17,45%. Perbedaan kinerja antarsegmen ini menunjukkan bahwa lini minuman UHT semakin menjadi penopang utama bisnis ULTJ, terutama dari sisi kontribusi pendapatan dan peluang pertumbuhan ke depan.

Dominasi segmen minuman UHT juga terlihat dari kontribusinya terhadap total penjualan ULTJ. Pada 2025, kategori ini menyumbang 99,35% dari total penjualan, meningkat dibandingkan kontribusi tahun 2024 sebesar 99,2%. Sementara itu, kategori makanan non-UHT hanya memberikan kontribusi sebesar 0,65% pada 2025, turun dari 0,8% pada tahun sebelumnya. Perubahan komposisi tersebut memperlihatkan semakin besarnya ketergantungan ULTJ terhadap produk minuman UHT sebagai sumber utama pendapatan.

Dari sisi operasional, skema pesanan langsung juga membantu menekan biaya distribusi dan pemasaran. Tanpa kebutuhan promosi di ritel modern atau biaya tambahan seperti listing fee, margin yang diperoleh menjadi lebih optimal. Hal ini menjelaskan mengapa laba usaha segmen minuman dapat tumbuh 16,18% meskipun penjualan relatif stagnan. Strategi ini mencerminkan peningkatan kualitas pendapatan melalui efisiensi biaya serta penguatan fokus bisnis pada segmen minuman.

2. PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) merupakan emiten lain di sektor consumer non-cyclicals yang memiliki model bisnis terintegrasi dari hulu hingga hilir. Partisipasi JPFA dalam program MBG sebagai penyedia bahan baku ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dikonfirmasi oleh Direktur JPFA, Rachmat Indrajaya, dalam public expose 3 September 2025.

Posisi ini memberikan fleksibilitas dalam menangkap peluang dari berbagai sisi rantai pasok MBG.

Tabel 3. Pertumbuhan Penjualan Neto JPFA per Segmen Tahun 2025 (YoY)

Sumber: Laporan Keuangan JPFA 2025

Laba bersih JPFA pada 2025 tumbuh sekitar 32,6% secara tahunan menjadi Rp4 triliun, menunjukkan peningkatan efisiensi dan margin. Kinerja ini didukung oleh kekuatan di seluruh lini bisnis.

Segmen pakan dan pembibitan unggas mencerminkan peningkatan aktivitas peternak yang mendukung permintaan dari industri unggas nasional.

Pertumbuhan 19,68% pada pengolahan dan produk konsumen menunjukkan keberhasilan emiten dalam menangkap permintaan langsung dari program MBG melalui produk siap konsumsi. Hal ini memberikan nilai tambah lebih tinggi dibandingkan hanya berfokus pada sektor hulu.

3. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN)

Selain JPFA, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) turut menjadi salah satu nama besar yang disebut analis berpotensi diuntungkan program MBG di sektor unggas. JPFA dan CPIN diproyeksikan bersama-sama berpotensi memasok hingga 1,1 juta ton ayam untuk kebutuhan program pada 2026, seiring proyeksi tambahan permintaan ayam dari MBG yang diperkirakan naik dari sekitar 216.000 ton pada 2025 menjadi sekitar 431.000 ton pada 2026.

Kinerja CPIN turut tertopang oleh membaiknya permintaan dan harga ayam broiler secara sektoral, yang oleh sejumlah analis dikaitkan dengan dorongan permintaan dari program MBG.

Tabel 4. Pertumbuhan Laba Bersih CPIN 2025 dan Kuartal I 2026 (YoY)

Sumber: Laporan Keuangan CPIN 2025 dan Kuartal I 2026

Laba bersih CPIN pada 2025 tercatat Rp5,64 triliun, tumbuh sekitar 52% secara tahunan dari Rp3,71 triliun pada 2024, didukung ekspansi margin serta pertumbuhan segmen pakan sebesar 27,6% menjadi Rp21 triliun. Momentum ini berlanjut pada kuartal I 2026, dengan laba bersih melonjak 67,72% secara tahunan menjadi Rp2,57 triliun, mencerminkan menguatnya permintaan dan harga jual ayam di tengah ekspansi program MBG.

4. PT Cipta Perdana Lancar Tbk (PART)

Selain sektor pangan, dampak program MBG juga merambah sektor consumer cyclicals, khususnya industri pendukung distribusi dan perlengkapan.

PT Cipta Perdana Lancar Tbk (PART), yang bergerak di sub-industri otomotif sebagai produsen suku cadang, menjadi contoh menarik dari diversifikasi bisnis yang adaptif terhadap kebijakan pemerintah.

Berdasarkan annual report, emiten ini melakukan ekspansi usaha ke produksi food tray dan alat mesin pertanian, yang telah disetujui dalam RUPSLB 2025. Pendanaan ekspansi diperoleh melalui pinjaman sebesar Rp74 miliar dari Bank Central Asia (BCA).

Kerja sama dengan BGN menjadi katalis penting peningkatan kinerja. Nilai pelanggan dengan kontribusi di atas 10% melonjak dari sekitar Rp37 miliar menjadi Rp103 miliar.

Dampaknya terlihat pada laba bersih yang naik Rp6,96 miliar atau sekitar 29,97% secara tahunan, dari Rp23,2 miliar (2024) menjadi Rp30,2 miliar pada 2025. Transformasi ini menunjukkan bahwa peluang dari program MBG tidak terbatas pada sektor utama, tetapi juga membuka ruang bagi saham sektor pendukung yang mampu beradaptasi.

Di luar empat emiten utama di atas, PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) juga mulai memasok program MBG sejak kuartal I 2026. Namun, manajemen CMRY menyebut kontribusi volume MBG saat ini masih relatif kecil dan marginnya lebih rendah dibandingkan penjualan komersial, sehingga belum menjadi pendorong utama kinerja perusahaan.

Lonjakan anggaran MBG dalam APBN 2026 dapat menjadi salah satu stimulus fiskal terbesar yang berdampak langsung pada sektor riil. Dengan peningkatan lebih dari tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, program ini menciptakan permintaan yang luas dan berlapis.

Sektor consumer non-cyclicals seperti ULTJ, JPFA, dan CPIN berada pada garis depan sebagai penyedia kebutuhan pangan dan gizi. Di sisi lain, sektor consumer cyclicals seperti PART menunjukkan bahwa peluang juga terbuka bagi emiten yang mampu melakukan diversifikasi dan menyesuaikan model bisnis.

Dalam konteks investasi, memahami arah belanja pemerintah menjadi salah satu pendekatan yang relevan untuk mengidentifikasi potensi pertumbuhan emiten. Pergerakan anggaran seperti MBG dapat memberikan indikasi mengenai sektor yang berpotensi memperoleh dorongan permintaan.

Dengan mempertimbangkan data dan tren yang ada, analisis fundamental dan kebijakan dapat menjadi landasan yang lebih kuat dalam menyusun strategi investasi ke depan.

Sebagai langkah lanjutan dalam memanfaatkan peluang dari kebijakan fiskal yang dapat menjadi katalis positif pada emiten tertentu, diversifikasi melalui reksa dana saham dapat menjadi pertimbangan yang relevan.

Makmur menyediakan beragam produk reksa dana yang dikelola oleh manajer investasi (MI) berpengalaman. Salah satu produk yang dapat dipertimbangkan adalah Sucorinvest Maxi Fund, yang mencatatkan kinerja positif sebesar 54,59% berdasarkan data per 22 Juli 2026.

Selain reksa dana saham, Anda juga dapat mempertimbangkan reksa dana campuran untuk diversifikasi karena portofolionya memadukan saham, obligasi, dan instrumen pasar uang sehingga risikonya lebih tersebar. Salah satu produknya adalah Syailendra Balanced Opportunity Fund Kelas A, yang pada periode yang sama mencatatkan kinerja sebesar 25,78%.

*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.

Tentang Makmur

PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.

Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.


Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Makmur Anchor dan Road to Makmur.

Link: Promo di Makmur

Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.

Download Makmur

Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.

Web Aplikasi Makmur

Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:

Website: Makmur.id


Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *