Gejolak Pasar Meningkat Akibat Eskalasi AS‑Iran, Ini Strategi Investasi yang Bisa Dicermati

Key Takeaways:

  • Operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 menjadi titik awal ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
  • Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu kenaikan harga minyak mentah, pada (2/3) harga minyak WTI sempat naik 11,96% ke level US$75,33/barel.
  • Kenaikan harga minyak terjadi karena gangguan distribusi energi global, khususnya melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz.
  • Di pasar saham, IHSG terkoreksi 2,65% pada tanggal 2 Maret 2026, dengan pelemahan harga saham di sektor tertentu.

Pada 28 Februari 2026, militer Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer yang menargetkan pusat pemerintahan dan fasilitas militer di Teheran serta sejumlah provinsi lain di Iran. Pemerintah Iran kemudian mengumumkan wafatnya Pemimpin Tertinggi, Ali Khamenei, pada 1 Maret 2026 dan di hari yang sama Iran merespons dengan meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone ke wilayah Israel. 

Eskalasi konflik tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah dan volatilitas pasar keuangan global. Ketidakpastian mengenai durasi serta potensi perluasan konflik membuat pelaku pasar cenderung mengambil sikap defensif, terutama pada aset yang berisiko tinggi. Dampak sentimen ini mulai terasa di Indonesia, melalui kenaikan harga BBM non-subsidi dan tekanan pada beberapa saham. 

Dampak Perang Iran Bagi Indonesia

Di bawah ini adalah sejumlah dampak perekonomian dari konflik Timur Tengah, yang mulai terjadi di Indonesia, di antaranya:

1. Harga BBM Naik

Konflik di kawasan Teluk Persia telah meningkatkan kekhawatiran terhadap kemungkinan gangguan distribusi energi global, terutama setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan peringatan yang berimplikasi pada penutupan Selat Hormuz. Jalur laut ini memiliki peran strategis sebagai titik transit bagi perdagangan minyak dan gas dunia. 

Diperkirakan 20 juta barel minyak mentah, atau 20% dari konsumsi energi global, melewati Selat Hormuz setiap harinya. Gangguan atau pembatasan di perairan tersebut berpotensi menghambat aliran pasokan energi dari negara produsen seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak dan Kuwait, sehingga memicu lonjakan harga minyak.

Pada pembukaan perdagangan 2 Maret 2026, harga minyak WTI melonjak 11,96% ke kisaran US$75,33/barel. Kenaikan signifikan tersebut merupakan cerminan ketidakpastian mengenai durasi dan eskalasi konflik di kawasan tersebut.

Seiring tren kenaikan harga minyak global di tengah eskalasi konflik, Pertamina melakukan penyesuaian harga BBM non-subsidi yang mulai berlaku pada 1 Maret 2026.

Tabel 1. Perubahan harga BBM non-subsidi (per liter)

*Harga di beberapa wilayah selain Jabodetabek bisa berbeda

Sumber: Pertamina Patra Niaga

Dari data di atas, kenaikan paling signifikan terjadi pada Dexlite dan Pertamina Dex, masing-masing naik Rp950 dan Rp1.000 per liter. Sementara itu, BBM jenis bensin mengalami kenaikan di kisaran Rp400 hingga Rp500 per liter. Data ini menunjukkan bahwa tekanan harga minyak mentah global lebih cepat tercermin pada BBM non-subsidi.

Kenaikan harga BBM di atas berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan logistik. Secara tidak langsung, tekanan tersebut juga dapat memengaruhi harga barang dan jasa apabila berlangsung dalam periode yang lebih lama.

Di sisi lain, sektor saham komoditas migas justru mendapat sentimen positif. Saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), perusahaan minyak dan gas bumi (migas) swasta terbesar di Indonesia, naik 15,65% pada perdagangan 2 Maret 2026 di level 1.995. Sementara itu, perusahaan migas dari grup Bakrie, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) melonjak 25% ke Rp2.200. Kenaikan harga saham tersebut terjadi karena investor memiliki ekspektasi peningkatan pendapatan emiten migas saat harga komoditas energi naik.

2. IHSG Kembali Terkoreksi

Di tengah penguatan saham energi, pasar saham secara keseluruhan justru melemah. Pada 2 Maret 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 2,65% ke level 8.016,83. Koreksi yang terjadi hari ini menunjukkan bahwa investor memilih langkah sell-off dan mempertimbangkan potensi peningkatan risiko di tengah ketidakpastian konflik Timur Tengah. Dari penurunan IHSG tersebut, sektor energi mengalami penguatan yang didorong oleh saham minyak dan gas (migas) seperti PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) yang naik 25,00%.

Dari sisi arus dana asing, sebelum eskalasi konflik terjadi, investor asing telah mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp18,67 triliun secara year-to-date (YTD) hingga 27 Februari 2026. Data ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar domestik sebenarnya sudah berlangsung bahkan sebelum eskalasi geopolitik terjadi. Pada 2 Maret 2026, investor asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp631,02 miliar.

3. Harga Emas Menguat

Dalam situasi perang, investor biasanya beralih ke aset safe haven, investasi yang diharapkan dapat mempertahankan atau bahkan meningkatkan nilainya di tengah gejolak pasar atau krisis ekonomi, dan emas menjadi salah satu pilihannya.

Harga emas dunia menguat sekitar 1,33% naik pada pembukaan perdagangan 2 Maret 2026, menyentuh level US$5.348,23 per troy ounce. Di dalam negeri, harga emas batangan Antam melonjak hingga Rp3,13 juta per gram. Kenaikan ini merupakan indikator untuk menilai peningkatan permintaan terhadap emas.

Kenaikan harga emas juga turut mendorong saham emiten produsen seperti PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM). Pada 2 Maret 2026, harga saham ANTM ditutup dengan kenaikan 5,98% di level Rp4.610, selaras dengan kenaikan harga komoditas emas.

Eskalasi konflik di Timur Tengah berdampak pada pasar keuangan Indonesia. Perkembangan ini menunjukkan keterkaitan erat antara dinamika geopolitik global dan stabilitas pasar domestik. 

Dalam situasi pasar yang bergejolak, keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada analisis fundamental dan manajemen risiko yang terukur. Dengan memahami dampak konflik global terhadap sektor kunci, Anda dapat mengambil langkah yang lebih rasional dan strategis dalam menjaga stabilitas portofolio.

Dalam kondisi seperti ini, diversifikasi ke instrumen berpendapatan tetap dapat menjadi pilihan. Reksa dana pendapatan tetap dikelola manajer investasi (MI) profesional dan mengalokasikan sebagian besar dana kelolaan pada surat utang negara dan korporasi, sehingga memiliki tingkat risiko yang relatif rendah. Sebagian produk reksa dana pendapatan tetap juga membagikan dividen, sehingga dapat memberikan arus kas tambahan.

Terdapat beragam reksa dana pendapatan tetap yang bisa Anda pilih di Makmur, salah satunya Insight Renewable Energy Fund. Berdasarkan data per 2 Maret 2026, reksa dana ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 9,56% dalam satu tahun terakhir.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.

Pastikan Anda membeli reksa dana melalui aplikasi Makmur, platform wealth tech yang berizin Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menyediakan platform investasi terpadu untuk reksa dana dan saham.


Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo March Ramadhan dan Semua Bisa Makmur.

Link: Promo-Promo di Makmur

Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.

Download Makmur

Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.

Web Aplikasi Makmur

Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:

Website: Makmur.id


Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *